Arsip Kategori: Uncategorized

Sejarah berdarah Sambas

“marilah kita melihat sejarah dari sudut pandang mencari ibrah bukan mencari siapa yang salah”.KOMPASRabu, 20 Desember 2000KONFLIK ETNIS DI KALIMANTAN BARAT BAK LUKA YANG TAK SEMBUH-SEMBUHSEJAK akhir tahun 1962, pertikaian etnis sepertinya sulit terpisahkan dari dinamika kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. Sekalipun sudah ribuan nyawa manusia yang tidak berdosa melayang, puluhan ribu tempat  tinggal dan tempat usaha hangus dibakar, namun bibit konflik itu terus saja membara. Bahkan, dalam empat tahun ini tercatat telah empat kali meletus kerusuhan besar, sedangkan yang kecil tidak bisa dihitung lagi.Setiap kali terjadi pertikaian etnis pasti dijumpai perlakuan yang tidak manusiawi terhadap korban. Bayangkan saja, setelah tewas dibunuh, lawan dari etnis berlainan tersebut memenggal tubuh korban  menjadi beberapa potong. Kepalanya ditenteng dan dipamerkan di jalan raya, atau ditendang seperti bola. Anehnya, pelaku pun tampak sangat berbangga serta bergembira dengan tindakan itu. Nyawa manusia seolah  menjadi tidak berharga di hadapan mereka yang bertikai.Kesepakatan perdamaian selalu digalakkan pejabat setempatserta pemimpin dari kelompok yang bertikai. Namun, semua itu hanya manjur sesaat. Kalau terjadi lagi senggolan kendaraan bermotor, perkelahian antarwarga yang melibatkan warga yang kebetulan beretnis Melayu atau Dayak dengan Madura, kerusuhan tersebut berpotensi meletus kembali. Persoalan antarpribadi dengan mudah sertacepat dapat berubah menjadi konflik antar-etnis. Dalam sekejap konflik pun menjalar ke berbagai kawasan. Semua itukarena luka batin yang diderita selama ini belum mampu tersembuhkan, sehingga masyarakat juga dengan mudah terprovokasi dalam solidaritas sosial yang sempit.BERDASARKAN catatan Prof Dr Syarif Ibrahim Alqadrie, GuruBesar Sosiologi Universitas Tanjungpura (Untan), konflik etnis di Kalbar sudah terjadi 12 kali. Sepuluh kali melibatkan Dayak dengan Madura,  yakni pada tahun 1962, 1963, 1968, 1972, 1977, 1979, 1983, 1996, 1997 dan 1999. Sekali antara Dayak dengan Tionghoa, yakni 1967. Kemudian dua kali Melayu dengan Madura, yakni tahun 1999 dan 2000.Dari ke-12 kali konflik etnis tersebut, yang terdahsyat adalah pertikaian Dayak dengan Madura pada tahun 1996 dan 1997. Saat itu konflik yang berawal dari Kampung Sanggau Ledo menyebar ke sejumlah kecamatan di Kabupaten Sambas, kemudian meluas hingga ke Kabupaten Pontianak, Sanggau dan Kodya Pontianak. Tragisnya, di mana dan kapan pun anggota dari kedua kelompok etnis ini bertemu cenderung saling kontak fisik atau saling membunuh.Setelah itu, menyusul pertikaian antara Melayu dan Dayak dengan Madura di Kabupaten Sambas pada tahun 1999. Konflik yang ini menjadi lebih parah, sebab ribuan masyarakat Madura di Sambas harus diungsikan ke berbagai lokasi di Kodya Pontianak dan Singkawang. Dan hingga kini,  pengungsi tetap dibiarkan bertahan dalam kamp pengungsian dan rumah keluarga sekaligus bergulat dengan 1.001 penderitaan.Keinginan kembali ke Sambas pun ditolak penduduk asli. Relokasi yang dijanjikan pemerintah, baru sebagian kecil yang direalisasikan. Rekonsiliasi antara masyarakat Dayak, Melayu dengan Madura terkesan diambangkan penguasa, sehingga pengungsi Sambas benar-benar berada di dalam ketidakpastian masa depan.Lebih menyakitkan lagi, ketika persoalan yang satu belum tuntas, lalu meletus lagi pertikaian yang sama yang melibatkan Melayu dan Madura di Kota Pontianak pada 25-27Oktober 2000. Peristiwa ini seolah ikut memupuskan harapanpengungsi Sambas untuk melakukan rekonsiliasi dan kembali ke tempat asalnya di Kabupaten Sambas.”Sepertinya ada pihak tertentu yang tak rela melihat masyarakat Melayu, Dayak dengan Madura di Sambas berdamai. Sebab fakta yang ada selama ini selalu memperlihatkan bahwa setiap kali pemuka masyarakat dari ketiga suku hendak tercapai kesepakatan, tiba-tiba saja meletus konflik baru baik berskala kecil maupun besar,” tutur Muniran, tokoh masyarakat Madura.Harus diakui, semakin beruntunnya konflik etnis di Kalimantan Barat, khususnya selama empat tahun terakhir, telah melahirkan bibit permusuhan antarkelompok masyarakat begitu subur berkembang. Benih kecurigaan telah bertebaran di mana-mana. Masyarakat sendiri semakin sulit membedakan persoalan pribadi maupun kelompok. Suasana hidup di  Kalimantan Barat, khususnya di KabupatenSambas, Bengkayang, Landak, Pontianak dan Kota Pontianak pun menyerupai api dalam sekam.Apabila dirunut ke belakang, sebetulnya masyarakat Madura dan Kalimantan Barat memiliki hubungan sejarah. Pada awal abad ke-18 saat  perang melawan Kerajaan Riau, sejumlah sukarelawan asal Madura yang tergabung dalam pasukan Kerajaan Mataram secara khusus ditugaskan ke Kalbar untukmembantu Kerajaan Sambas. Setelah pertempuran berakhir, sejumlah sukarelawan Madura tidak bersedia kembali ke tanah asalnya. Mereka memilih bertahan di Sambas, lalu menikah dengan gadis Melayu setempat.Kedatangan berikutnya pada awal abad ke-20, sekitar tahun 1902. Setelah itu, eksodus masyarakat Madura secara swakarsa tersebut makin  marak hingga saat ini. Di Kalbar, mereka umumnya bekerja sebagai petani, buruh kasar, peternak dan pedagang. Pilihan pekerjaan ini  disebabkan tingkat pendidikan mereka rata-rata tidak tamat Sekolah Dasar (SD).Di mata penduduk asli Kalbar, masyarakat Madura dinilai rajin, ulet dan terampil dalam memelihara tanaman serta hewan. Seekor sapi yang sebelumnya sangat kurus, setelah dipelihara serta dirawat orang Madura  selama beberapa pekan, langsung gemuk. Maka tak heran, kalau kebutuhan daging sapi di Kalbar sebagian besar dipasok masyarakat Madura setempat.Di balik kelebihan ini, ternyata masih ada sederetan perilaku yang dinilai penduduk Kalbar sebagai hal yang negatif. Hal tersebut antara lain selalu menggunakan senjata tajam dalammenghadapi atau menyelesaikan konflik. Dan bagi penduduk asli, kalau salah seorang warganya terkena senjata tajam, maka harus diselesaikan secepatnya dengan upacara adat setempat, baik berupa pendinginan darah maupun  pergantian biaya obat-obatan. Di samping itu, pelakunya menjalani proses hukum.”Inilah yang sering menjadi masalah, sebab orang Madura selalu tidak bersedia menjalani hukum adat. Bahkan, ketika pelakunya sudah ditahan polisi pun, mereka berusaha dengan segala cara supaya pelaku dibebaskan. Akibatnya, timbul kekecewaan dari keluarga serta kerabat korban. Mereka lalu membalasnya dengan melukai atau membunuh pelaku  atau kerabat pelaku. Kemudian meletuslah kerusuhan,” tutur Slamet AG (62), pensiunan Polri. Lelaki asal Bantul, DI Yogyakarta ini sudah sekitar 30 tahun bertugas di Kalbar.Arogansi lain dari beberapa warga Madura, tambah Prof Dr Syarif  Ibrahim Alqadrie, adalah cenderung membiarkan hewan piaraannya memasuki kebun milik orang lain. Batas lahan atau tanah pun digeser  semaunya. Kalau ditegur pemilik tanah yang dirugikan, langsung diancamnya dengan senjata tajam. Hasil pertanian dan barang dagangan orang lain pun diambil sesuai kehendaknya.”Kalau dituduh mencuri, mereka berkilah bahwa pencurian hanya dapat dilakukan pada malam hari.Sedangkan pengambilan barang itu dilakukan siang hari,” tutur Syarif Ibrahim yang sudah beberapa kali meneliti  kerusuhan sosial di Kalbar. Pelaku, katanya, umumnya mereka yang baru datang dari kampung asalnya di Madura.”Maka, kerusuhan sosial di Sanggau Ledo, Sambas atau konflik etnis lainnya yang berskala kecil maupun besar selama ini di Kalbar adalah akumulasi dari kemarahan, kekecewaan, kebencian, keterhinaan, keterhimpitan, kepedihan maupun ketidakberdayaan. Hal itu merupakan implikasi dari semua pengalaman pahit yang dialami selama ini lewat berbagai perilaku preman yang menyakitkan,” tambahnya.Kendati demikian, persoalan yang timbul adalah mengapa terjadi  penyamarataan terhadap setiap warga Madura? Tragisnya lagi, mereka  yang tidak bersalah atau beberapa perempuan atau lekaki Melayu dan Dayak yang sudah terasimilasi dalam perkawinan ikut menjadi sasaran  kebrutalan massa, serta dilarang menetap di Kabupaten Sambas.”Terus terang, saya jadi tak mengerti lagi dengan kerusuhan di Sambas  tempo hari. Bayangkan, saya ini orang Melayu yang kebetulan beristrikan orang Madura. Tetapi, dalam kerusuhan Sambas, rumah kami dibakar oleh orang Melayu. Bahkan, sampai sekarang dilarang kembali ke Sambas. Apa salah kami?” tegas Thamrin (48), ayah enam anak yang kini menderita cacat pada kedua tangannya. Dia bersama keluarganya sedang pengungsi di Stadion Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak. Di Sambas, mereka menetap di Desa Kawakan, Kecamatan Sejangkung.Sejumlah masyarakat Madura mengakui ada sejumlah sesamanya yang agak kurang menyatukan diri dengan lingkungan masyarakat Kalimantan Barat. Namun, kenyataan ini tidak bisa digeneralisasikan semua warga Madura. Masih banyak orang Madura yang bersikap akomodatif, toleransi dan  selalu bersahabat dengan masyarakat suku lain di Kalbar.Akar persoalan, kata mereka, terletak pada tak adanya kepastian hukum.  Kalau terjadi kecelakaan, pencurian atau perkelahian, aparat penegak hukum tidak serius menindaknya. Bahkan, memberi peluang bagi pelaku  terbebas dari segala tuntutan hukum. Sebagai kompensasi, mereka diberikan sejumlah uang.”Bagi orang Madura, tawaran polisi ini pasti langsung disambut baik. Sebab tahanan dan penjara dalam pandangan orang Madura adalah  menyakitkan dan memalukan. Mereka rela menjual sapi beberapa ekor, yang penting sanak keluarganya dibebaskan,” kata Haji Ramini, Ketua  Ikatan Keluarga Korban Kerusuhan Sambas (IK3S).”Jadi, kalau mau jujur, aparat penegak hukum merupakan penyebab dari semua tragedi berdarah di Kalbar. Kalau oknum-oknum yang sering mengganggu ketenangan dan keharmonisan warga ditangkap, dan diadili, kemudian hukum pun benar-benar ditegakkan, takkan mungkin kasus yang menyerupai pembasmian etnis ini terjadi terus-menerus,” tambahnya.Salah satu bukti kasus Pontianak 25-27 Oktober 2000 lalu. Kasus itu hingga kini sepertinya hendak didiamkan, sebab belum satu pelaku utama atau provokator yang ditangkap atau diseret ke pengadilan. Sebanyak 13 berkas perkara yang dilimpahkan kepada Kejaksaan Negeri Pontianak pertengahan November 2000 silam, dengan pelakunya adalah mereka yang kedapatan membawa senjata tajam saat sweeping aparat TNI/Polri.”Ketidakseriusan aparat Polri dalam mengusut, menangkap sekaligus menghukum pelaku serta dalang kerusuhan, berartimenyimpan bom waktu bagi masyarakat Kalbar. Sebab, tidak tertutup kemungkinan, peristiwa yang sama meletus kembali di waktu mendatang,” tegas Muniran.Ketidakadilan dan perilaku memang merupakan salah satu variabel utama  mendorong timbulnya konflik antaretnis di Kalbar. Namun kasus ini tak  berdiri sendiri. Apalagi peristiwayang sama sudah terjadi 12 kali di  wilayah tersebut. Bahkan berpotensi untuk meletus lagi di waktu-waktu mendatang.Syarif Ibrahim Alqadrie melihat kepemimpinan politik juga ikut memicu pertikaian. Pemimpin formal setempat, seperti gubernur maupun bupati dinilai belum mampu mengelola pluralitas etnik sebagai suatu kekuatan untuk memajukan kepentingan bersama. Sebaliknya, perbedaan yang ada diupayakan sedemikian rupa agar tidak rukun, sehingga dengan mudah diadu-domba untuk menimbulkan konflik horizontal. Strategi ini  merupakan bagian dari upaya mempertahankan kekuasaan dan memperkuat  posisi kepemimpinan.Dalam teori konflik, jelas Syarif Ibrahim, kalau sebuah daerah atau  negara sering terjadi konflik, timbullah instabilitas keamanan dan sistem ketatanegaraan serta pemerintahan pun akan semakin lemah. “Keadaan demikian tentu sangat menguntungkan pemimpinnya. Kekuasaan tetap langgeng, dan semakin tidak tergoyahkan. Sebab konsentrasi warga lebih tertuju kepada bagaimana menjaga keamanan. Sebaliknya, kalau stabilitas keamanan terpelihara dengan baik, sebagian masyarakat pun akan menggoyang kedudukanpemimpinnya. Ini yang paling ditakuti para  pemimpin formal yang tidak merakyat,” jelas Syarif Ibrahim.Terlepas dari beragamnya pendapat soal latar belakang pertikaian etnis di Kalbar, namun satu hal yang pasti seluruh masyarakat selalu menginginkan ketenangan, kedamaian, persaudaraan, serta penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia. Ini berarti, perlu dilakukan rekonsiliasi ke arah perdamaian yang abadi antarkelompok etnis yang  bertikai. Dengan demikian, segala macam dendam, permusuhan maupun  konflik batin lainnya yang masih bersemi dalam sanubari masyarakat segera dimusnahkan.Persoalannya, dalam rekonsiliasi menuntut keikhlasan, kejujuran dan rendah hati. Artinya, masing-masing kelompok yang bertikai harus jujur dan rendah hati mengakui kesalahanmasa lalu. Kemudian dengan ikhlas saling memberikan maaf kepada kelompok lainnya seraya berjanji takkan mengulangi kesalahan yang pernah dibuatnya. Rekonsiliasi ini tidak hanya dilakukan di tingkat elite kelompok  etnis. Tapi juga harus digelar di lingkungan masyarakat terkecil, seperti Rukun Tetangga (RT) sehingga melibatkan partisipasi serta dukungan seluruh lapisan masyarakat.

SULTAN SAMBAS

Sultan-Sultan Sambas
Sultan-Sultan Sambas seluruhnya berjumlah 15 Sultan yaitu :
1. Sultan Muhammad Shafiuddin I bin Sultan Ibrahim Ali Omar Shah ( Sultan Tengah ) (1671 – 1682 )
2. Sultan Muhammad Tajuddin bin Sultan Muhammad Shafiuddin I (1682 – 1718)
3. Sultan Umar Aqamaddin I bin Sultan Muhammad Tajuddin ( 1718 – 1732)
4. Sultan Abubakar Kamaluddin bin Sultan Umar Aqamaddin I (1732 – 1762 )
5. Sultan Umar Aqamaddin II bin Sultan Abubakar Kamaluddin ( 1762 – 1786 ) dan (1793 – 1802 )
6. Sultan Achmad Tajuddin bin Sultan Umar Aqamaddin II (1786 – 1793 )
7. Sultan Abubakar Tajuddin I bin Sultan Umar Aqamaddin II ( 1802 – 1815 )
8. Sultan Muhammad Ali Shafiuddin I bin Sultan Umar Aqamaddin II ( 1815 – 1828 ) [3]
9. Sultan Usman Kamaluddin bin Sultan Umar Aqamaddin II (1828 – 1832 )
10. Sultan Umar Aqamaddin III bin Sultan Umar Aqamaddin II (1832 – 1846 )
11. Sultan Abu Bakar Tajuddin II bin Sultan Muhammad Ali Shafiuddin I ( 1846 – 1854) [4]
12. Sultan Umar Kamaluddin bin Sultan Umar Aqamaddin III ( 1854 – 1866 )
13. Sultan Muhammad Shafiuddin II bin Sultan Abubakar Tajuddin II (1866 – 1924)
14. Sultan Muhammad Ali Shafiuddin II bin Sultan Muhammad Shafiuddin II (1924 – 1926)
15. Sultan Muhammad Ibrahim Shafiuddin bin Pangeran Adipati Achmad bin Sultan Muhammad
Shafiuddin II ( 1931 – 1944 ) ( Sultan Sambas Terakhir )
16. Pangeran Ratu Muhammad Taufik bin Sultan Muhammad Ibrahim Shafiuddin ( 1944 – 1984)
( Kepala Rumah Tangga Istana Kesultanan Sambas )
17. Pangeran Ratu Winata Kusuma bin Pangeran Ratu Muhammad Taufik (2000 – 2008) ( Kepala
Rumah Tangga Istana Kesultanan Sambas )
18. Pangeran Ratu Muhammad Tarhan bin Pangeran Ratu Winata Kesuma (2008 – sekarang)
sebagai Pewaris Kepala Rumah Tangga Istana Kesultanan Sambas.

Football Manager 2014 Manchester United ( 2016-2017 )

image

image

image

image

Setelah tidak mampu mempertahankan gelar juara primier league Liverpool FC dan hanya berada di peringkat 6 Akhirnya Aku di pecat. Tak lama setelah itu Manchester United pun mengontakku dan memilih diriku menjadi pelatih. Aku memang fans Liverpool. Pekerjaan tetap lah pekerjaan dan harus Profesional. Ketika berada di Tim Manchester united banyak pemain yang sangat berkualitas. Memang Vidic,Ferdinand,Scholes dan Giggs tidak ada lagi. Namun masih ada nama beken Kagawa,Fellaini,Van Persie,Javier Hernandez dan Wayne Rooney. Banyak pemain mengkritik gaya latihanku yang sedikit keras. Namun hasilnya akhir musim 2016-2017 Manchester United mampu ku buat Tribble winner. Beberapa pemain baru langsung klop seperti Antonio Soro yang di beli dari Atletico 21 juta pound,lalu Request dari Ryan Giggs yaitu Hal Robson Kanu dari Reading 18 juta pond,Bek tengah Benfica Lisandro Lopez seharga 13 juta pound,lalu anak dari Peter Schmeichel yaitu Kasper Schmeichel dari Leicester City 1,8 juta Pound,dan Kiper Ross Worner dari klub divisi 2 Wimbledon seharga 1,2 juta.

Total belanja 64 juta Pound
Skuad Tim Utama
Dengan strategy serangan Balik 4-4-2
sangat mengandalkan kekuatan di sayap

Kiper : David De Gea
Bek Tengah : Lisandro Lopez
Bek Tengah : Eder Alvatez Balanta
Bek Sayap kanan : Antonio Soro
Bek Sayap Kiri : Felipe Luis
Gelandang Tengah : Marouane Fellaini
Playmaker : Shinji Kagawa
Gelandang Sayap Kanan : Wilfred Zaha
Gelandang Sayap Kiri : Bernard
Striker : Javier Hernandez
Striker : Wayne Rooney ( Captain )

Cadangan
Kiper : Kasper Schmeichel
Kiper : Ross Worner
Bek Tengah : Stevan Savic
Bek Tengah :Jhonny Evans
Bek Tengah : Tasci
Bek Tengah :Chris Smalling
Bek sayap kanan : Rafael Da Silva
Bek Sayap kanan : Drjo Srna
Bek sayap kiri : Criscito
Bek sayap kiri : Fabio Da Silva
Gelandang Tengah : Darrent Fletcher
Gelandang Tengah : M. Carrick
Gelandang Tengah :Tom Cleverley
Gelandang Tengah : Nick Powell
Gelandang Tengah : Alex Garner
Gelandang Sayap : Nani
Gelandang Sayap : Adnan Januzaz
Gelandang Sayap : Hal Robson Kanu
Gelandang Sayap : Allan Mironov
Gelandang Sayap : Ashley Young
Striker :Van Persie
Striker :Danny Wellbeck
Striker : Henriquez

Pemain Terbaik Javier Hernandez yang menjadi Top Skor Liga Inggris. Dan Wilfred Zaha menjadi Pemain Muda terbaik MU.

PRESTASI
Juara Primier League dengan 86 Point
– Juala Piala FA mengalahkan Stoke City di Final 4-0
– Juara Euro cup mengalahkan Atletico Madrid 2-0.

ANALISIS KEKALAHAN LIVERPOOL VS CHELSEA

image

LIVERPOOL 0-2 CHELSEA
( Demba Ba,Willian )

image

image

Kembali strategi parkir bus chelsea membuat frustasi kawan. Dari segi permainan Liverpool lebih menguasai. Namun,pemain chelsea melakukan serangan balik yang menghasilkan Gol setelah Liverpool melakukan kesalahan di pertahanan. Beberapa penyebab kekalahan Liverpool

1. Kesalahan elementer Steven Gerrard

image

Tanpa di duga dan tidak sengaja Steven Gerrard terpeleset ketika hendak mengontrol bola. Demba Ba yang berada dekat situ langsung menyambang dan mendrible bola dengan mudahnya dia menbobol gawang Mignolet. Kesalahan itu menjadi beban untuk Steven Gerrard. Terlihat permainannya menjadi terburu-buru. Permainan Liverpool pun menjadi tidak sabar dan sering melakukan kesalahan dam mensia-siakan peluang. Padahal Ball Possesion milik Liverpool Sepenuhnya

image

2. Parkis Bus dan Serangan Balik Chelsea yang mematikan

image

Setelah mendapatkan gol. Mourinho pun memulai strategi Parkir Bus nya karena serangan Liverpool sangat agresif. Sayang berapa peluang terbuang sia- sia. Terlihat di depan hanya Demba Ba dan Schurrle,sisanya menumpuk di Lini belakang dan menunggu kesalahan dan kelengahan Liverpool. Terbukti di babak ke 2 berawal dari kesalahan Aspas dan Hanya menyisakan 1 bek di pertahanan Liverpool harus kebobolan setelah Torres dan willian tinggal berhadapan dengan Mignolet. Dengan tenang Torres memberi umpan kepada Willian dan menendang bola ke gawang yang sudah kosong.

3. Penampilan baik Mark Schwarzer

Selain menumpuknya Lini pertahan Mark Schwarzer sering melakukan penyelamatan yang gemilang. Beberapa Shooting dari Allen,Gerrard dan Luis Suarez mampu dia tangkap dan Blok. Hingga Lini depan pun semakin frustasi.

Kekalahan ini membuat perebutan Liga semakin menarik Lagi.

Coutinho vs Oscar ( Samba beda Warna )

image

Liverpool FC akan menjalani pertandingan Premier League 2013-14 pekan ke-36 melawan Chelsea FC di Anfield Pada tanggal 27-04-2014 Pertandingan akan dimulai pukul 20:05 WIB.

Mungkin kita sudah terbiasa membandingkan Steven Gerrard dan Frank Lampard, atau menyorot  Daniel Sturridge dan Fernando Torres yang bertarung dengan mantan Klub. Lalu mengulang kisah gigitan Suarez terhadap Ivanovic. Atau bagaimana Bredgan Rodgers yang harus melawan temannya Jose Mourinho. Mungkin kisah- kisah itu tetap menjadi sorotan. Namun,kita jangan lupakan Duo Brazil yang sedang hot-hot nya ini. Philipe Coutinho dan Oscar Dos Santos. Memiliki posisi yang sama sebagai gelandang serang,Coutinho ingin membuka mata pelatih Brazil Felipe Scolari dengan melawan Oscar Dos Santos yang sudah merasakan tim senior brazil. Coutinho ingin membuktikan bahwa dia layak bersanding di lini tengah Brazil bersama Oscar. Coutinho yang menggunakan nomor punggung 10 di Liverpool ini sudah mencetak 5 gol dan 1 asssit. Sedangkan Oscar bernomor punggung 11 di Chelsea sudah mencetak 8 gol dan 5 assist.  Keduanya merupakan kekuatan baru di tim masing-masing. Coutinho yang lebih muda 1 tahun dengan Oscar yang berumur 22 tahun tidak akan melewati kesempatan di pertandingan ini. Siapa kah yang akan menang?

by Riko Reynaldi [KsjL ] .YNWA

KISAH DONGENG SAMBAS ” BUJANG NADI DAN DARE NANDONG

Kisah TanNunggal serta Bujang Nadi Dare
Nandung

image

Pada zaman dahulu, ketika keturunan Sultan sedang pergi
berburu ke hutan, ketika sedang asik berburu tetapi bukan
buruan yang didapatkan, tiba-tiba rombongan dikejutkan
dengan tangisan suara bayi. Semua rombongan berpikir” di
hutan belantara seperti ini dari mana asal suara tangisan
bayi tersebut” ujar keturunan Sultan tersebut. Keturunan
Sultan tersebut langsung memberikan perintah kepada
seluruh prajurit yang ikut berburu untuk mencari dari mana
suara bayi berasal. Setelah sekian lama mencari ternyata
suara bayi tersebut berasal dari rumpun bambu, prajurit
langsung diperintah untuk menebang pohon bambu
tersebut, tanpa di duga dan di sangka semua rombongan di
kejutkan dengan kehadiran seorang bayi yang berasal dari
balik rumpun bambu. Tanpa pikir panjang, di dampingi
dengan perasaan panik keturunan Sultan yang memimpin
kegiatan berburu langsung memberikan perintah kepada
seluruh anak buahnya untuk membawa bayi yang
ditemukan di dalam bambu tersebut di bawa ke Istana
untuk di temukan dengan Sultan Sambas. Secara kebetulan
Sultan Sambas juga belum mempunyai anak, jadi bayi yang
di temukan di hutan tadi langsung di angkat oleh Suultan
Sambas untuk menjadi anaknya dan di beri nama
TanNunggal. Mengapa bayi yang di temukan di dalam
rumpun bambu tersebut diberi nama TanNunggal?????
Pada zaman dahulu setiap keturunan Sultan pasti di panggil
dengan sebutan “Tan”, kebetulan bayi yang di temukan di
dalam rumpun bambu tersebut memiliki gigi yang aneh
kalau di bandingkan dengan manusia biasa atau manusia
normal.
Dari rahang kiri sampai rahang kanan gigi bayi tersebut
menyatu seolah-olah hanya memiliki satu gigi atau sering di
sebut dengan gigi tunggal, padahal kalau manusia biasa
giginya tidak mungkin menyatu atau terdiri dari beberapa
buah gigi, sehingga bayi tersebut di beri nam TanNunggal.
TanNunggal dibesarkan di lingkungan istana Sambas
layaknya seperti anak sendiri, sehingga TanNunggal menjadi
tumbuh dewasa dengan gagah berani dan dipercaya akan
menggantikan posisi bapaknya (sultan Sambas) memimpin
kerajaan Sambas. Pada saat TanNunggal memerintah
kerajaan Sambas dia menyunting rakyat biasa menjadi
istrinya dan dikaruniai dua orang anak, yaitu laki-laki dan
perempuan, yang laki-laki diberi nama Nadi dan yang
perempuan diberi nama Nandong. Dalam kebiasaan
masyarakat Sambas biasanya anak laki-laki sering dipanggil
dengan sebutan Bujang dan yang perempuan dipanggil
dengan sebutan Dare, maka jelaslah anak tersebut dipanggil
dengan Bujang Nadi dan Dare Nandong. Pada saat
TanNunggal berkuasa di Sambas, raja TanNunggal terkenal
dengan raja yang kejam karena sifatnya yang sombong
dengan rakyat. Dia memimpin dengan sewenang-wenang,
apa yang ia katakan dan semua keinginannya harus
dilaksanakan walaupun hal tersebut dibenci oleh rakyat
Sambas, banyak hal yang terjadi sehingga TanNunggal
dikatakan raja yang kejam dan zalim. Pernah pada suatu
saat rakyat Sambas digemparkan dengan kejadian yang
sangat mengejutkan sampai-sampai TanNunggal dikatakan
manusia setengah siluman. Pada saat ia memimpin
TanNuanggal paling senang makan sambal asam, pada hari
itu tukang masak kerajaan atau tukang buat sambal asam
terlambat membuat sambal asam, sedangkan jam makan
siang TanNunggal sudah sebentar lagi, jadi si tukang masak
tergesa-gesa untuk membuat sambal asam untuk
TanNunggal sedangkan dia sudah tahu bahwa TanNunggal
tidak mau memakan tanpa sambal asam bahkan
TanNunggal bisa marah, begitu takut dimarah TanNunggal si
tukang masak tergesa-gesa untuk membuat sambal asam
sampai-sampai jari kelingkingnya teriris lalu darahnya
menetes ke dalam sambal asam yang dibuat tadi, karena
waktu yang sudah sangat singkat lalu si tukang masak itu
langsung mengaduk darah yang menetes tadi ke dalam
sambal asam yang ia buat karena ia berpikir tidak sempat
lagi membuat sambal asam yang baru. Sambal asam
tersebut langsung disajikan di meja makan TanNunggal,
begitu memakan sambal tersebut TanNunggal sangat
kenyamanan dia berpikir “Mengapa ya sambal asam pada
hari ini sangat enak berbeda dengan hari biasanya”. Lalu
TanNunggal bertanya kepada si tukang masak. Si tukang
masak pun tidak berani untuk berbohong, ia menceritakan
bahwa sambal asam itu sudah bercampur dengan darahnya
sendiri. Semenjak kejadian itu TanNunggal memerintahkan
kepada tukang masak setiap kali membuat sambal asam
harus dicampur dengan darah manusia.
Kembali ke cerita Bujang Nadi dan Dare Nandong, pada
masa hidupnya Bujang Nadi sangat suka memelihara ayam
jago dan Dare Nandong paling suka untuk menenun kain
sampai-sampai dia pernah mendapatkan hadiah berupa
mesin tenun yang berlapis emas, tiap hari Bujang Nadi dan
Dare Nandong hanya diperbolehkan bermain berdua saja
melainkan hanya berteman dengan ayam jago dan alat
tenun milik Dare Nandong karena TanNunggal sangat
membenci mereka jika dia berteman dengan rakyat biasa.
Pada suatu kejadian, ketika Bujang Nadi dan Dare Nandong
sedang asik barmain di taman istana tanpa sadar mereka di
intip oleh seorang pengawal istana, tepat pada saat itu
Bujang Nadi dan Dare Nandong sedang asik bercerita
tentang perkawinan.
Bujang Nadi : dik, jika kamu ingin mencari pasangan hidup.
Pasangan hidup seperti apa yang kamu idamkan?
Dare Nandong : adik sangat mengharapakan, nanti calon
suami adik mirip dangan abang, baik itu dari segi
gantengnya, gagahnya, dan sikapnya harus seperti abang.
Sedangkan abang, istri seperti apa yang abang inginkan?
Bujang Nadi : abang juga berkehendak demikian, abang
sangat mengharapkan istri abang nantinya seperti adik
cantiknya dan tentunya hati istri abang juga seperti adik
lembutnya.
Mendengar percakapan kakak adik tersebut pengawal
kerajaan yang sedang mengintip tadi salah artikan, dia
berpikir kakak adik tersebut ingin melakukan perkawinan
sejarah, tanpa berpikir panjang sang pengawal kerajaan itu
langsung melaporkan kejadian tersebut kepada TanNunggal.
Raja TanNunggal sangat terkejut, dia sangat malu dengan
kejadian itu, sebelum anaknya berbuat hal yang dapat
merusak citra atau nama baik kerajaan Sambas bahkan
dapat memberikan aib bagi kerajaan, padahal apa yang iya
dengar semuanya salah belaka. TanNunggal langsung
memerintahkan kepada prajuritnya untuk mengubur kedua
anaknya yaitu Bujang Nadi dan Dare Nandong beserta
dengan ayam jago milik Bujang Nadi dan mesin tenun milik
Dare Nandong. Kemudaian kedua kakak adik tersebut di
kubur hidup-hidup di daerah Sebedang Kecamatan Tebas
tentunya masih di Kabupaten Sambas. Konon katanya
masyarakat setempat sampai pada saat ini masih percaya
bahwa kuburan tersebut sangat angker karena setiap
malam jumat sering mendengar kokokan suara ayam jantan
yang berasal dari kuburan Bujang Nadi dan Dare Nandong
yang di kubur dalam satu makam, bahkan kadang-kadang
terdengar suara orang sedang menenun kain yang juga
berasal dari kuburan tersebut yang di duga milik Dare
Nandong.

LIVERPOOL VS CHELSEA ( 27-04-2014 )

image

Hari minggu 27/04/2014, Liverpool Fc akan melawan Chelsea di Anfield. Banyak yang berpendapat bahwa pertandingan ini akan menentukan siapa yang akan menjuarai Premier League 2013-2014. Kondisi Liverpool sendiri sedang Top Fire,setelah memastikan target awal untuk Liga Champion musim depan,sekarang mereka tinggal 3 langkah lagi untuk menjuarai liga. Sedangkan Chelsea yang juga sedang berkompetisi di Liga Champion harus bekerja keras menahan gempuran Diego Costa dkk sehingga Sang Juru Taktir Jose Mourinho menggunakan jurus Special ” Parkir Bus “. Agar tidak kebobolan.
Di sisi Liverpool Sturridge masih di ragukan untuk masuk starter,Agger juga belum fit,sedangkan Henderson di hukum 3 laga tidak dapat bermain dan Steven Gerrard di kabarkan Cedera di tumit. Namun secara keseluruhan Punggawa Liverpool sangat siap. Apa lagi Suarez dan Sterling masih dalam Top Form. Berbanding terbalik dengan Chelsea,yang di jelaskan Oleh Mourinho untuk menggunakan tim cadangan. Selain itu juga Kubu Chelsea mendapat masalah internal setelah di kalahkan Sunderland di kandang sendiri. Mourinho dan Ramires di periksa FA. Bahkan Cech dan Hazard saat ini juga Cedera.
Seberapa besarkah peluang The Reds untuk menang melawan The Blues?

70 : 30 Liverpool akan menang

Penulis : Riko Reynaldi The Kopites Sambas